Kelihatannya bencana alam berupa banjir, tanah longsor, gempa bumi, kebakaran hutan,wabah penyakit, gelombang besar laut tak henti-hentinya melanda Indonesia dari tahun ke tahun. Tahun-tahun penuh bencana, namun tidak arif kalau ada pihak yang mengaitkannya dengan ’’kesialan’’ individu pemimpin kita saat ini. Yang membuat kita prihatin, meskipun bencana sudah datang begitu seringnya, namun upaya untuk mengantisipasi kemungkinan buruk itu masih belum terlihat. Masih jalan sendiri-sendiri. Akibatnya apa? Bencana lebih besar bisa saja terjadi, di tahun depan mungkin akan lebih parah lagi kalau kita tetap tidak peduli lingkungan. Pakar lingkungan sudah memberi isyarat: kalau kita semua, terutama pemerintah tidak tanggap, tetap terjadi pengrusakan ekosistem alam, terutama hutan, maka bencana banjir dan tanah longsor akan semakin mengerikan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wapres Jusuf Kalla (JK) sudah menyadari hal itu bahwa banjir yang melanda berbagai daerah di Indonesia di Jakarta, Semarang, sebelumnya melanda Aceh dan Sumut dll tidak lain karena hutan di kawasan itu sudah rusak (gundul) akibat pohon-pohon besarnya sudah ditebangi. Justru itu, kita mengajak semua pihak, khususnya pemerintah untuk menindaklanjuti aba-aba yang sudah dikeluarkan pihak BMG dan pemerintah. Mari kita melakukan antisipasi sehingga kalaupun terjadi bencana sebagaimana sudah diperkirakan, namun masyarakat dapat menghindar sehingga kemungkinan terjadinya korban dan kerugian yang besar dapat diminimalisir. Saatnya masyarakat peduli akan lingkungan di sekitarnya. Masyarakat kota jangan apatis melihat parit di depan rumahnya tumpat, masyarakat desa pun demikian, juga masyarakatdi dekat kawasan hutan harus sama-sama menyadari bahwa lingkungan harus dijaga. Hutan jangan ditebang. Kalau terjadi penebangan harus segera dicegah. Di sinilah aparat terkait, polisi kehutanan maupun polisi dan jaksa cepat tanggap untuk menangkap pelaku perambah hutan dan menyeretnya ke sidang pengadilan untuk dihukum berat. Tegasnya, meningkatnya curah hujan perlu diwaspadai oleh daerah-daerah yang rawan banjir dan tanah longsor, terutama ketika curah hujan sangat lebat seperti melanda Semarang. Namun. Apapun ceritanya, kita tidak boleh apatis. Usaha harus dilakukan dan kesungguhan itu harus datang dari elite politik dan kekuasaan. Jika yang di atas sudah komitmen dan ’’political will’’ dari pemerintah sudah ada, sehingga masyarakat pun ikut mendukung menjaga lingkungan di sekitarnya. Percuma saja kalau hanya masyarakat yang peduli lingkungan, sementara izin HPH terus diberi, pembalakan hutan (illegal logging) pun mendapat backing dari oknum berseragam. Khusus warga di kawasan yang dekat dengan DAS (daerah aliran sungai) maupun di kawasan yang rendah diminta lebih waspada dan harus lebih peduli memperbaiki kerusakan lingkungan di wilayahnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)